# Coolify vs Dokploy: Memilih PaaS Self-Hosted

> Perbandingan langsung antara Coolify dan Dokploy untuk self-hosting aplikasi di VPS, mencakup arsitektur, manajemen database, deploy via git, dan penggunaan resource.

URL: https://www.matthewswong.com/id/blog/coolify-vs-dokploy-self-hosted-paas/

- Author: Matthews Wong (https://www.matthewswong.com/id/about/)
- Published: 2026-07-02
- Updated: 2026-10-01
- Category: DevOps

Pada suatu titik, setiap developer yang pernah memasang Docker, Nginx, dan cron job perpanjangan Let's Encrypt secara manual di VPS kosong akan mulai bertanya-tanya apakah ada cara yang lebih baik. Jawabannya ada: platform PaaS self-hosted memberikan pengalaman deploy selayaknya Vercel atau Heroku, sementara container tetap berjalan di server milik sendiri yang dibayar per bulan, bukan per request.

Coolify dan Dokploy adalah dua opsi open source paling populer di ranah ini saat ini, dan keduanya menyelesaikan masalah yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Artikel ini membandingkan keduanya dari sisi yang benar-benar penting begitu beban kerja produksi mulai berjalan: bagaimana arsitekturnya, bagaimana masing-masing memperlakukan database, bagaimana deploy berbasis git bekerja di baliknya, seberapa besar resource VPS yang habis hanya untuk menjalankan platform itu sendiri, dan mana yang lebih cocok dijadikan pilihan default sesuai situasi.

## Arsitektur: Cara Masing-Masing Platform Mengelola Server

Pada dasarnya kedua platform ini adalah aplikasi dashboard ditambah agent yang berkomunikasi dengan Docker daemon lewat SSH atau socket lokal. Tidak ada yang menggantikan Docker; keduanya hanya mengorkestrasi Docker untuk kita dan menghasilkan konfigurasi reverse proxy Traefik, sertifikat TLS, serta networking secara otomatis sehingga kita tidak perlu lagi menulis compose file untuk routing secara manual. Perbedaan arsitektur yang paling terasa ada pada cara masing-masing memandang skalabilitas di luar satu server.

- Coolify dipasang sebagai satu aplikasi control-plane langsung di server utama Anda, lalu mengelola server remote tambahan lewat SSH. Platform ini berjalan dari Raspberry Pi sampai instance cloud besar. Coolify sempat menambahkan Docker Swarm sebagai opsi eksperimental, tetapi dokumentasinya kini menandai dukungan Swarm sebagai deprecated dan akan dihapus di Coolify v5, jadi jangan merencanakan cluster di atasnya.
- Dokploy memakai fondasi Docker dan Traefik yang sama, tetapi dibangun dengan clustering Docker Swarm sebagai fitur utama sejak rilis paling awal, sehingga menambah node kedua untuk scaling horizontal menjadi alur yang dipandu, bukan fitur lanjutan tambahan.
- Kedua platform menyediakan sertifikat Let's Encrypt secara otomatis lewat Traefik dan memperpanjangnya tanpa campur tangan manual, jadi cron job certbot benar-benar menjadi masa lalu di kedua platform ini.

> Jika kamu hanya menjalankan satu VPS untuk beberapa side project, jangan terlalu terpengaruh oleh percakapan seputar clustering Swarm. Kedua platform berjalan baik di satu server, dan node tambahan bisa ditambahkan nanti kalau memang benar-benar perlu scaling horizontal.

## Perbandingan Fitur Demi Fitur

Melangkah keluar dari sisi arsitektur, berikut perbandingan kedua platform dari faktor-faktor praktis yang biasanya menentukan pilihan sebuah tim.

| Faktor | Coolify | Dokploy |
| --- | --- | --- |
| Orkestrasi dasar | Docker Compose secara default; dukungan Docker Swarm eksperimental sudah deprecated dan akan dihapus di v5 | Docker Swarm secara native, tertanam di inti sejak awal |
| Lisensi | Sepenuhnya open source dengan lisensi Apache 2.0, termasuk fitur-fitur lanjutan | Core berlisensi Apache 2.0; hanya kode di direktori /proprietary (fitur enterprise seperti SSO dan audit log) yang memakai lisensi proprietary terpisah |
| Kematangan | Proyek yang lebih lama dengan komunitas jauh lebih besar, dokumentasi lengkap, dan katalog lebih dari 280 layanan satu klik | Proyek yang lebih baru dan tumbuh sangat cepat, dengan dashboard yang lebih ringan dan seringkali terasa lebih responsif |
| Paling cocok untuk | Tim yang menginginkan fleksibilitas maksimal, katalog layanan satu klik yang besar, dan lisensi yang sepenuhnya terbuka | Developer yang menginginkan onboarding tercepat dan nyaman dengan tool yang lebih ringkas serta lebih opinionated |

## Manajemen Database: Perbedaan yang Terasa Sehari-hari

Melakukan deploy aplikasi adalah hal dasar yang wajib ada di setiap PaaS self-hosted. Yang benar-benar membedakan pengalaman sehari-hari adalah manajemen database, karena bagian inilah dari stack yang paling tidak boleh salah. Kedua platform memungkinkan kita menjalankan Postgres, MySQL, MongoDB, atau Redis terkelola langsung dari dashboard tanpa menulis compose file sendiri, tapi kedalaman tooling backup dan restore bawaan itulah yang benar-benar terasa begitu aplikasi sudah berjalan di produksi.

- Pilih engine dan versi database dari dashboard, lalu platform akan menyediakannya sebagai container tersendiri di server dengan default storage dan networking yang masuk akal.
- Arahkan job backup otomatis ke bucket yang kompatibel dengan S3, baik itu AWS S3 asli, Cloudflare R2, Backblaze B2, atau instance MinIO self-hosted, lalu atur jadwalnya.
- Ketika terjadi masalah, restore dari backup terjadwal hanya dengan beberapa klik di dashboard, tanpa perlu SSH masuk dan menjalankan pg_restore secara manual.

> Database yang berjalan sebagai container biasa di VPS yang sama dengan aplikasi kita berbagi CPU dan memori dengan semua hal lain di server itu. Satu beban kerja Postgres yang berat dapat merebut resource dari container aplikasi kecuali server disesuaikan ukurannya atau database dipindahkan ke instance khusus begitu traffic bertambah.

## Deploy Berbasis Git dan Apa yang Terjadi di Baliknya

Pengalaman deploy di kedua platform terlihat sama dari luar: hubungkan repository GitHub, GitLab, atau Bitbucket, pilih branch, dan setiap push memicu build serta rollout baru. Secara internal, keduanya mendeteksi tipe project secara otomatis dan menggunakan Dockerfile yang sudah ada atau membuatkan build sendiri jika belum ada, lalu menghubungkan hasilnya ke Traefik menggunakan label seperti pada contoh di bawah, yang merepresentasikan konfigurasi compose yang disusun oleh kedua platform di balik layar.

## Penggunaan Resource di VPS Kecil

Karena kedua platform pada dasarnya adalah sekumpulan container yang berjalan di server yang sama dengan aplikasi kita, overhead yang ditambahkan sangat berpengaruh di VPS dengan budget terbatas. Tidak ada yang gratis untuk dijalankan, dan perbedaannya paling terasa di instance atau droplet paling kecil.

- Dashboard Coolify sendiri, ditambah container Postgres dan Redis yang dipakai secara internal untuk menyimpan konfigurasi, biasanya menetap di angka beberapa ratus megabyte RAM saat idle, dan itu sebelum aplikasi kita sendiri mulai berjalan.
- Dokploy menjalankan container dashboard yang sebanding bersama Traefik, jadi siapkan overhead dasar yang serupa di atas kebutuhan aplikasi dan database kita sendiri.
- Pada VPS umum dengan 2 vCPU dan RAM 4 GB, kedua platform tetap menyisakan cukup ruang untuk dua atau tiga layanan Next.js atau Node kecil ditambah satu database ringan, yang sudah cukup untuk kebanyakan side project dan situs klien berskala kecil.

Kedua platform sama-sama menggantikan satu akhir pekan penuh untuk memasang Docker, Traefik, dan perpanjangan certbot secara manual dengan sebuah install script yang hanya butuh beberapa menit untuk dijalankan. Itu saja sudah sepadan dengan overhead RAM yang kecil bagi kebanyakan self-hoster.

## Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Pilih Coolify jika kamu menginginkan platform dengan komunitas terbesar, katalog layanan satu klik terbanyak, jejak penggunaan produksi paling panjang, dan lisensi Apache 2.0 yang sepenuhnya terbuka tanpa fitur yang disembunyikan di balik tier berbayar. Pilih Dokploy jika kamu menginginkan onboarding tercepat, menyukai dashboard yang lebih ringkas dan opinionated, serta sudah tahu ingin menjadikan clustering Docker Swarm sebagai cerita scaling default sejak awal, bukan fitur tambahan opsional.

Bagi kebanyakan developer solo dan tim kecil yang menjalankan beberapa side project atau situs klien di satu VPS, kedua platform ini akan dengan nyaman menggantikan setup Docker dan Traefik manual hanya dalam satu sore. Keputusannya biasanya kembali ke apakah kita lebih menghargai ekosistem Coolify yang lebih besar dan lisensinya yang sepenuhnya terbuka, atau footprint Dokploy yang lebih ringkas dengan desain Swarm-first. Coba keduanya di VPS murah yang bisa dibuang sebelum benar-benar berkomitmen; install script masing-masing hanya butuh beberapa menit untuk dijalankan dan waktu yang sama untuk dibongkar kembali.

## Sumber:

- Dokumentasi resmi Coolify — Pendahuluan
- Dokumentasi resmi Dokploy — Konsep inti
- Repository GitHub Coolify (coollabsio/coolify)
- Repository GitHub Dokploy (Dokploy/dokploy)
- Dokumentasi Coolify: Docker Swarm (deprecated)
- LICENSE.MD Dokploy
- Harga Easypanel

## Bagaimana dengan Easypanel? Opsi Ketiga yang Komersial

Beberapa pembaca menanyakan Easypanel, dan pendirinya juga menghubungi saya untuk menyarankannya. Easypanel layak masuk pembahasan ini dengan satu perbedaan yang jelas: core Easypanel adalah software komersial closed-source dengan paket gratis, sementara Coolify dan Dokploy open source. Easypanel cocok untuk Anda yang ingin deploy aplikasi di VPS sendiri lewat antarmuka sederhana, dengan katalog template besar yang dirawat dan dukungan berbayar.

Per Oktober 2026, paket gratisnya mengizinkan hingga tiga project dengan service dan deployment tanpa batas, dan paket berbayarnya dilisensikan per server. Jika lisensi terbuka penting bagi Anda, tetap pilih Coolify atau Dokploy; jika Anda lebih suka membayar untuk panel yang rapi dan vendor yang bisa dihubungi, Easypanel adalah pilihan yang masuk akal.

Baca perbandingan lengkap tiga platform: Easypanel vs Coolify vs Dokploy

> Koreksi, Oktober 2026: versi sebelumnya dari artikel ini menyebut core Dokploy sebagai source-available dan mencantumkan Docker Swarm sebagai opsi Coolify yang masih berjalan. Core Dokploy berlisensi Apache 2.0 dengan hanya direktori /proprietary yang memakai lisensi terpisah, dan Coolify sudah men-deprecate dukungan Swarm. Kedua pernyataan itu sudah diperbaiki di atas.

> **Key takeaway:** Coolify dan Dokploy sama-sama mengubah satu VPS menjadi PaaS self-hosted dengan deploy dari git, routing Traefik, dan sertifikat Let's Encrypt. Coolify sepenuhnya berlisensi Apache 2.0 dengan katalog service yang lebih besar; Dokploy punya core Apache 2.0, dashboard lebih ramping, dan scaling berbasis Swarm. Easypanel adalah alternatif komersial dengan paket gratis.

## Source links

- https://coolify.io/docs/get-started/introduction
- https://docs.dokploy.com/docs/core
- https://github.com/coollabsio/coolify
- https://github.com/Dokploy/dokploy
- https://coolify.io/docs/core/infrastructure/scaling/docker-swarm
- https://github.com/Dokploy/dokploy/blob/canary/LICENSE.MD
- https://easypanel.io/pricing

## FAQ

### Apa perbedaan utama antara Coolify dan Dokploy?

Coolify adalah proyek yang lebih lama dan lebih besar dengan komunitas yang lebih luas, katalog lebih dari 280 layanan satu klik, dan lisensi Apache 2.0 yang sepenuhnya terbuka. Dokploy lebih baru dan menanamkan clustering Docker Swarm ke dalam intinya sejak awal, dengan dashboard yang lebih ringkas namun sebagian fitur lanjutannya dikunci di balik lisensi proprietary terpisah. Keduanya merupakan alternatif self-hosted untuk Vercel, Heroku, dan Netlify.

### Bisakah Coolify atau Dokploy dijalankan di satu VPS kecil saja?

Bisa. Kedua platform berjalan dengan nyaman di satu VPS dengan spesifikasi sekecil 2 vCPU dan RAM 4 GB, masih menyisakan ruang untuk beberapa aplikasi kecil dan satu database ringan. Clustering Docker Swarm baru relevan begitu kita benar-benar perlu scaling ke banyak server, dan tidak ada platform yang memaksa kita memakainya sejak hari pertama.

### Bagaimana Coolify dan Dokploy menangani backup database?

Kedua platform memungkinkan kita menjalankan instance Postgres, MySQL, MongoDB, atau Redis terkelola dari dashboard dan mengatur backup otomatis ke storage yang kompatibel dengan S3, seperti AWS S3, Cloudflare R2, atau bucket MinIO self-hosted. Restore dari backup terjadwal bisa dilakukan hanya dengan beberapa klik tanpa perlu menjalankan perintah restore database secara manual lewat SSH.

### Mengapa memilih Dokploy dibanding Coolify yang sudah lebih mapan?

Pilih Dokploy jika kamu menginginkan onboarding tercepat, lebih menyukai dashboard yang lebih ringkas dan opinionated, atau sudah tahu ingin menjadikan clustering Docker Swarm sebagai jalur scaling default alih-alih fitur tambahan opsional. Fitur dan komunitas Coolify yang lebih besar terkadang terasa lebih dari yang dibutuhkan proyek kecil.

### Apakah saya masih perlu mengonfigurasi Nginx atau certbot secara manual dengan platform ini?

Tidak. Coolify maupun Dokploy sama-sama menghasilkan konfigurasi reverse proxy secara otomatis lewat Traefik dan menyediakan sertifikat TLS Let's Encrypt untuk setiap domain yang dihubungkan, lalu memperpanjangnya tanpa campur tangan manual. Mengedit konfigurasi Nginx sendiri atau menjadwalkan cron job perpanjangan certbot tidak lagi diperlukan begitu salah satu platform ini mengelola proses deploy kita.

---

- HTML version: https://www.matthewswong.com/id/blog/coolify-vs-dokploy-self-hosted-paas/
- English: https://www.matthewswong.com/en/blog/coolify-vs-dokploy-self-hosted-paas/
- Site index for agents: https://www.matthewswong.com/llms.txt
- Sitemap: https://www.matthewswong.com/sitemap.xml
- API description (OpenAPI): https://www.matthewswong.com/openapi.json
