Lowongan kerja di Indonesia menceritakan sebagian kisah: React, Node.js, Laravel, Java, Python, Kubernetes. Tapi stack mana yang benar-benar dominan di mana, dan mengapa? Setelah bekerja di firma konsultan tech Indonesia dan membandingkan catatan dengan developer di bank, startup, dan perusahaan menengah, saya bisa memberi gambaran yang lebih berdasar daripada listicle 'top tech stacks 2025'. Ekosistem tech Indonesia memiliki tingkatan yang berbeda, dan setiap tingkatan memiliki preferensi stack yang sangat berbeda yang didorong oleh anggaran, ukuran tim, dan jenis masalah yang mereka selesaikan.
GoTo (Gojek + Tokopedia), Traveloka, Shopee Indonesia, dan operasi Sea Group di Indonesia adalah puncak ekosistem stack tech lokal. Perusahaan-perusahaan ini menjalankan arsitektur microservices polyglot: Go untuk layanan high-throughput (sistem ride-matching dan pembayaran GoTo terkenal menggunakan Go), Kotlin/Java untuk Android dan layanan backend, Python untuk data science dan pipeline ML, serta React/Next.js untuk frontend web. Kubernetes di GCP atau AWS mengelola orkestrasi container. Kafka menangani event streaming. Stack perusahaan-perusahaan ini sangat dipengaruhi oleh org engineering global mereka dan volume transaksi yang mereka proses.
Untuk startup Indonesia di tahap Series A–B, MERN stack (MongoDB, Express, React, Node.js) atau varian TypeScript-nya (Next.js + NestJS + PostgreSQL) adalah pilihan dominan. Alasannya pragmatis: talent pool yang besar, iterasi cepat, dan JavaScript di seluruh stack berarti tim yang lebih kecil bisa bergerak cepat. Di 2025, tren bergeser dari MERN biasa ke Next.js (App Router) di frontend dan NestJS + Prisma + PostgreSQL di backend — stack yang lebih opinionated dan type-safe yang lebih scalable dari Express vanilla dengan MongoDB.
Bank-bank besar Indonesia (BCA, BRI, Bank Mandiri) dan anak perusahaan digitalnya menjalankan kombinasi sistem Java EE legacy dan microservices baru yang ditulis dalam Spring Boot. .NET C# sering muncul di software house enterprise dan perusahaan asuransi. SAP mendominasi ERP di konglomerat manufaktur dan distribusi besar — Astra International, Unilever Indonesia, Pertamina semuanya menjalankan SAP. Oracle EBS muncul di implementasi enterprise yang lebih lama. Poin penting bagi developer: jika ingin bekerja di perbankan atau enterprise besar, Java Spring Boot bukan pilihan.
Indonesia Tech Stack Map (2025)
──────────────────────────────────────────────────────
Tier Company Type Dominant Stack
──────────────────────────────────────────────────────
Unicorn GoTo, Traveloka Go, Kotlin, Python,
React, Kubernetes/GCP
Series A-B Funded startups Next.js, NestJS,
PostgreSQL, Docker
Enterprise BCA, BRI, Mandiri Java Spring Boot,
Oracle DB, SAP
Mid-market Distributors, Mfg Laravel/PHP, MySQL,
Odoo, SAP B1
Consulting Commsult, agencies NestJS, TypeScript,
PostgreSQL, React
Government SPBE projects PHP Laravel, MySQL,
on-premise infra
──────────────────────────────────────────────────────Saat melamar pekerjaan di perusahaan Indonesia, sesuaikan CV-mu dengan stack tier mereka. Untuk startup: tonjolkan React, Node/NestJS, Docker, PostgreSQL. Untuk perbankan/enterprise: tonjolkan Java Spring Boot, desain REST API, Oracle atau PostgreSQL, dan pengalaman dengan sistem yang aman. Untuk tech yang berdekatan dengan pemerintah: PHP Laravel masih banyak muncul dan familiar dengan kerangka kepatuhan pemerintah (SPBE) adalah nilai pembeda.
Laravel masih sangat lazim di Indonesia — bisa dibilang lebih dari pasar regional mana pun. Banyak portal pemerintah Indonesia, produk SaaS menengah, dan platform e-commerce berjalan di atas Laravel. Ini sebagian karena warisan talent (Dicoding, Kelas.com, dan bootcamp Indonesia telah mengajarkan PHP/Laravel selama bertahun-tahun) dan sebagian karena kematangan framework (ekosistem Laravel untuk developer Indonesia sangat baik, dengan dukungan komunitas lokal). Jika kamu menganggap pengalaman Laravel sebagai 'legacy' dalam konteks Indonesia, kamu salah membaca pasar — ada ribuan lowongan Laravel, dan banyak yang membayar kompetitif.
Untuk peran infrastruktur dan DevOps, stack dominan yang saya lihat di lowongan kerja DevOps Indonesia adalah: Linux (Ubuntu/Debian), Docker + Kubernetes (GKE atau EKS), Terraform untuk IaC, GitHub Actions atau GitLab CI untuk pipeline, Nginx atau Traefik sebagai reverse proxy, dan AWS atau GCP sebagai cloud utama. Prometheus + Grafana untuk monitoring kini hampir standar di perusahaan menengah-besar. Yang jelas tidak ada di kebanyakan stack DevOps Indonesia dibandingkan pasar AS/EU: service mesh (Istio/Linkerd) dan observabilitas berbasis eBPF — ini masih jarang di luar perusahaan tier teratas.
# Commsult ERP Stack (production, 2025)
backend:
framework: NestJS (TypeScript)
database: PostgreSQL 16
orm: TypeORM / Prisma
auth: JWT + RBAC modules
frontend:
framework: React 18 + Vite
ui: Tailwind CSS + shadcn/ui
state: Zustand + React Query
infra:
runtime: Docker + Docker Compose
proxy: Nginx (reverse proxy, SSL termination)
cloud: DigitalOcean Droplets / GCP e2-medium
ci/cd: GitHub Actions
ssl: Let's Encrypt (certbot auto-renew)
Di Commsult Indonesia, stack ERP yang kami bangun adalah NestJS + TypeScript + PostgreSQL untuk backend, dengan React untuk frontend. Infrastruktur berjalan di Docker dengan Nginx sebagai reverse proxy, di-deploy di VPS (DigitalOcean dan Google Cloud tergantung klien). Ini adalah stack pragmatis: NestJS memberi kami struktur yang dibutuhkan untuk logika bisnis yang kompleks (alur approval, modul akuntansi, isolasi multi-tenant), TypeScript menangkap bug di compile time yang bisa jadi mimpi buruk di JavaScript biasa, dan PostgreSQL menangani model data relasional yang dibutuhkan sistem ERP.
Lowongan kerja Indonesia sering mencantumkan stack aspirasional, bukan alat sehari-hari yang sebenarnya. Sebuah lowongan mungkin menyebut 'React, Kubernetes, Terraform, GraphQL' tapi pekerjaan sebenarnya adalah 80% memelihara monolith Laravel dan 20% menulis komponen React. Selalu tanyakan dalam wawancara: 'Berapa persen codebase kalian yang menggunakan setiap teknologi dalam daftar?' dan 'Apa perubahan infrastruktur besar terakhir yang kalian lakukan?' Pertanyaan-pertanyaan ini mengungkap stack sebenarnya lebih cepat dari deskripsi pekerjaan mana pun.
Tiga teknologi yang terlihat mendapat traksi di pasar Indonesia di 2025: (1) Integrasi AI/LLM — hampir setiap perusahaan produk menambahkan fitur AI, mendorong permintaan skill Python, LangChain, dan vector database (Pinecone/Chroma); (2) Golang — berkembang melampaui unicorn ke startup menengah yang butuh performa; dan (3) Flutter — dominan untuk mobile di Indonesia karena mengkompilasi iOS dan Android dari satu codebase, sangat penting untuk tim yang tidak mampu punya developer iOS dan Android terpisah.
Fresh grad yang menargetkan startup: React + TypeScript + NestJS + PostgreSQL + Docker — kombinasi ini membuka pintu paling banyak di pasar startup Indonesia 2025. Pengalaman 2–4 tahun yang menargetkan kompensasi lebih tinggi: tambahkan sertifikasi AWS/GCP dan Kubernetes ke stack backend yang sudah dikuasai. Senior yang menargetkan enterprise atau perbankan: perdalam Java Spring Boot dan pahami pola integrasi enterprise (message queue, API gateway, service registry). Menargetkan klien freelance internasional: Next.js + TypeScript + deployment cloud modern adalah kombinasi paling banyak diminta klien AS/EU yang merekrut developer Indonesia secara remote.