Skip to main content
BlogCareer

Domain Knowledge di Era AI: Pelajaran dari Kampus Malaka

Di peluncuran Kampus Malaka, Sabda PS berargumen era AI menghargai domain knowledge, bukan jago prompt. Saya mengecek argumennya dengan transkrip lengkap kedua video, riset payroll Stanford, dan pengalaman ERP saya sendiri.

Matthews Wong

Software Engineer

November 202615 menit baca
Domain Knowledge di Era AI: Pelajaran dari Kampus Malaka

Ringkasan Utama

Di era AI, domain knowledge lebih berharga daripada jago prompt. Menulis kode dan mengumpulkan data kini murah; tahu data mana yang penting dan kapan sebuah jawaban salah tidak murah. Sabda PS menyampaikan argumen ini di peluncuran Kampus Malaka, dan riset payroll Stanford mengarah ke hal yang sama: AI menggantikan pengetahuan terkodifikasi dan melengkapi pengalaman.

Pada 20 Oktober 2026, di Citywalk Sudirman, Jakarta, Malaka meluncurkan Kampus Malaka: kampus baru untuk lulusan SMA, SMK, dan madrasah dengan satu program studi, data science. Di sesi tanya jawab, Ferry Irwandi membantah anggapan populer. Orang selalu bilang era AI adalah era siapa yang paling jago nge-prompt, katanya, dan itu keliru. Sabda PS, salah satu pendiri Zenius sekaligus penggagas kurikulumnya, lalu menjelaskan alasannya lewat pengalamannya sendiri saat coding: nge-prompt yang benar itu tidak gampang, karena Anda harus tahu struktur database dan modulnya, kalau tidak kodenya kusut begitu diubah. [3, 1]

Itu cocok dengan yang saya lihat di pekerjaan ERP, jadi saya tidak berhenti di potongan videonya. Saya membaca transkrip otomatis kedua sesi dari awal sampai akhir, mengecek klaim di sekitarnya dengan belasan sumber, termasuk riset payroll Stanford, eksperimen lapangan terhadap 758 konsultan BCG, dan diagram data science asli Drew Conway, lalu menambahkan seperti apa domain knowledge di sistem yang pernah saya bangun. Saya tidak punya afiliasi dengan Malaka. Ini bacaan seorang engineer atas sebuah argumen pendidikan.

Apa yang sebenarnya dikatakan Sabda PS di peluncuran Kampus Malaka

Kedua video ini diunggah di kanal YouTube Malaka pada akhir Oktober 2026 dan layak ditonton utuh, tetapi argumennya bisa diringkas dalam lima klaim. Saya cantumkan timestamp-nya supaya Anda bisa mengecek sendiri. Kutipannya saya rapikan sedikit dari transkrip otomatis tanpa mengubah maksudnya. [1, 2]

KlaimVideoMenit
Nge-prompt yang benar itu tidak gampang: harus tahu dasar-dasar database dan struktur modulnya, kalau asal-asalan kodenya kusut saat diubahJurusan Paling Dibutuhin di Era AI4:05
Data science bukan cuma ngoding dan statistik; butuh domain expertise, yang dipilih sendiri oleh tiap mahasiswaJurusan Paling Dibutuhin di Era AI6:12
Karena sudah ada AI, data science sebenarnya jadi sangat mudah, tapi data science is not only about codingKuliah Bukan Cuma Soal Gelar dan Pekerjaan20:04
Ngoleksi data zaman sekarang sudah gampang; tahu data mana yang penting, menjadikannya insight, dan mengotomasinya itu yang berbedaKuliah Bukan Cuma Soal Gelar dan Pekerjaan22:14
Kurikulumnya: fondasi Madilog, data science sebagai tooling universal, lalu mata kuliah pilihan untuk memilih industriKuliah Bukan Cuma Soal Gelar dan Pekerjaan23:47

Ia juga menjelaskan kenapa kampus ini memilih data science. Regulasi di Indonesia hanya mengizinkan nomenklatur program studi tertentu, dan dari daftar itu ia mencari jurusan yang ia sebut platformic: jurusan yang, seperti filsafat atau manajemen, terpakai lintas industri, bukan hanya memasok satu industri. Menurutnya, data science adalah Microsoft Excel atau Google Sheets-nya abad ke-21, alat yang bisa dibawa ke pertanian, perikanan budidaya, manufaktur, media, atau pendidikan. [2]

Motifnya adalah bagian yang paling sering dilewatkan ringkasan. Ia khawatir era AI membuat dunia makin timpang, dengan jurang yang melebar antara orang yang pekerjaannya tergantikan dan orang yang memiliki mesinnya. Jawabannya adalah melatih mahasiswa untuk berada di tengah, sebagai pencipta dan operator otomasi, dan itu menuntut pemahaman atas tool-nya sekaligus domain yang diotomasi. [2]

Nge-prompt kini bagian yang murah

Contoh coding dari Sabda punya angka pendukung. Veracode menguji kode dari lebih dari 100 large language model dalam Java, JavaScript, Python, dan C#, dan menemukan kode buatan AI memunculkan celah keamanan berisiko di 45% pengujian. Model yang lebih besar dan lebih baru tidak membuat keamanannya membaik. Model menulis apa yang Anda minta; ia tidak tahu aturan sistem Anda yang baru saja ia langgar. [6]

Eksperimen lapangan yang paling jelas memang sudah agak lama, tetapi masih yang terbaik. Pada 2023, 758 konsultan Boston Consulting Group dibagi acak: sebagian diberi GPT-4, sebagian tidak. Untuk tugas di dalam apa yang para peneliti sebut jagged technological frontier, konsultan yang memakai AI menyelesaikan 12,2% lebih banyak tugas, 25,1% lebih cepat, dengan kualitas 40% lebih tinggi. Untuk tugas yang sedikit di luar frontier itu, konsultan tanpa AI menjawab benar 84% dari waktu; dengan AI hanya 60 sampai 70%. AI-nya terdengar sama yakinnya di kedua kasus. Mengetahui di sisi mana sebuah tugas berada bukan skill nge-prompt. Itu domain knowledge. [7]

Kesalahan yang mahal

Jarang berupa prompt yang buruk. Biasanya berupa jawaban lancar untuk pertanyaan yang salah, diterima oleh orang yang tidak cukup paham domainnya untuk meragukannya.

Data payroll Stanford: AI menggantikan pengetahuan buku lebih dulu

Bukti terkuat datang dari data ketenagakerjaan. Erik Brynjolfsson, Bharat Chandar, dan Ruyu Chen mengikuti jutaan pekerja Amerika lewat data payroll ADP. Dalam revisi Agustus 2026, jumlah pekerja usia 22 sampai 25 tahun di pekerjaan yang terpapar AI berada 19% di bawah angka yang seharusnya kalau mengikuti pertumbuhan rekan seusia di pekerjaan yang kurang terpapar, sementara pekerja berpengalaman tidak menunjukkan kesenjangan serupa. Penurunannya terpusat di pekerjaan tempat AI menggantikan tugas manusia; di pekerjaan tempat AI melengkapi pekerja, jumlah pekerja stabil atau naik. [8]

Penjelasan mereka adalah argumen domain knowledge dalam bahasa ekonom. AI lebih efektif menggantikan pengetahuan yang sudah didigitalkan dan dikodifikasi, inti dari pendidikan formal, sambil melengkapi pengetahuan tacit berbasis pengalaman yang dimiliki karyawan senior. Pekerjaan yang bergantung pada pengetahuan tacit justru mencatat pertumbuhan lapangan kerja lebih cepat untuk pekerja berpengalaman. Para penulis menyebut temuan ini indikator awal yang deskriptif, bukan estimasi kausal, dan catatan itu penting, tetapi arahnya konsisten selama setahun pembaruan. [8]

Empat pita bertumpuk dari murah ke langka: menulis kode dan mengumpulkan data ditandai murah, memilih data yang penting ditandai langka, mengetahui jawaban yang salah ditandai paling langka
Dua pita teratas adalah yang dibuat murah oleh AI, dan justru itulah yang masih paling banyak dinilai di kebanyakan mata kuliah. Dua pita terbawah adalah yang menurut data Stanford masih membuat pekerja berpengalaman dibayar.

Filsuf Michael Polanyi menamai masalah dasarnya pada 1966: kita tahu lebih banyak daripada yang bisa kita ceritakan. Apa yang tidak pernah ditulis tidak bisa masuk ke training set atau prompt. Studi kedua memperlihatkan sisi lain dari koin yang sama. Ketika AI assistant generatif diberikan kepada 5.179 agen customer support, produktivitas naik 14% secara rata-rata dan 34% untuk pekerja pemula dan berketerampilan rendah, dengan dampak minimal bagi yang berpengalaman. Para peneliti menemukan indikasi bahwa model itu menyebarkan praktik terbaik dari pekerja paling cakap. AI mengemas domain knowledge para ahli dan memberikannya kepada pemula. Para ahlinya tetap menjadi sumbernya. [9, 10]

Data science sejak awal adalah tiga lingkaran, bukan satu

Poin Sabda bahwa data science bukan cuma ngoding dan statistik bukanlah hal baru, dan justru itu menguatkannya. Pada 2010 Drew Conway menggambar Data Science Venn Diagram dengan tiga lingkaran: hacking skills, pengetahuan matematika dan statistik, serta substantive expertise. Sains, tulisnya, membutuhkan pertanyaan yang memotivasi tentang dunia, dan pertanyaan itu datang dari memahami bidangnya. [11, 1]

Peringatannya yang paling sering dikutip adalah tentang hacking skills ditambah substantive expertise tanpa matematika: danger zone, tempat orang tahu cukup banyak untuk menjadi berbahaya. AI memperluas zona itu, karena AI memberikan lingkaran hacking kepada semua orang. Desain Kampus Malaka saya baca sebagai upaya mengisi ketiga lingkaran itu dengan urutan yang disengaja. [11]

Tiga kolom yang memetakan lingkaran Drew Conway ke kurikulum Kampus Malaka: matematika dan statistik ke fondasi Madilog, hacking skills ke tooling data science, substantive expertise ke domain pilihan
Lingkaran Conway dari 2010 sejajar dengan kurikulum yang dijelaskan Sabda PS pada Oktober 2026. Kolom tengah adalah yang paling dimurahkan oleh AI, karena itu dua kolom di sisinya kini yang membawa nilai.

Contoh dari Sabda sendiri memperlihatkan lingkaran ketiga bekerja. Ia menyebut ratusan juta data dari anak-anak Indonesia yang mengerjakan soal matematika di Zenius, dan bilang dengan data itu ia tahu persis di mana bolongnya pemahaman seorang siswa dan di mana harus diintervensi. Tidak ada model yang dilatih dengan data generik yang tahu hal itu. Butuh bertahun-tahun di dalam satu domain untuk tahu pertanyaan apa yang harus diajukan ke datanya. [1]

Madilog: lapisan fondasi di bawah tool

Fondasi yang dipilih Sabda adalah Madilog, buku yang ditulis Tan Malaka di Batavia pada 1942 dan 1943, singkatan dari materialisme, dialektika, dan logika. Ia memetakannya ke tiga tujuan yang lebih sederhana. Logika mencakup mathematical thinking, penalaran verbal, dan kemampuan berpikir. Materialisme adalah soal pengetahuan yang reliable, atau dalam kalimatnya: how do you know what you know is true? Dialektika, baginya, berarti sejarah, evolusi, dan antropologi: bagaimana manusia berubah dalam pergulatannya dengan alam dan dengan manusia lain. [5, 2]

Foto potret hitam-putih Tan Malaka, penulis Madilog
Tan Malaka menulis Madilog untuk melawan logika mistika. Sabda PS membangun Zenius, dan kini fondasi Kampus Malaka, di atas gagasan yang sama. Foto: George T. Kahin / Wikimedia Commons, Public domain

Ia membela fondasi itu dengan analogi sepak bola. Jurusan yang hanya melatih satu skill sempit itu seperti bek kanan yang cuma jago tekel dan lari: tidak agile, tidak adaptif, dan kalau suatu saat AI sudah punya alatnya, Anda tergantikan. Ia menelusuri jurusan-jurusan sempit di Indonesia ke sekolah era kolonial yang dibangun untuk mencetak tenaga kerja spesifik, seperti STOVIA, sekolah dokter yang kini menjadi FKUI. [2]

Saya akan mengatakannya dalam bahasa engineering. Fondasi adalah apa yang membuat Anda bisa mengecek mesinnya. Tanpa logika dan sedikit statistik, Anda tidak bisa membedakan regresi yang terlihat masuk akal dari yang benar, dan tanpa kebiasaan bertanya bagaimana kita tahu sesuatu itu benar, Anda akan percaya pada jawaban yang paling lancar. Domain knowledge memberi tahu apa yang harus ditanyakan. Fondasi memberi tahu apakah jawabannya bisa dipegang.

Seperti apa domain knowledge di pekerjaan ERP saya

Saya membangun sistem ERP, dan fakta paling berharga di dalamnya tidak pernah berasal dari kode. Saat membangun modul accounts payable ANCoraPRO untuk seorang klien, approval chain-nya adalah submitted, manager, finance, approved, payment, paid. Tidak ada tahap CFO. Template approval generik bisa saja memasukkan persetujuan eksekutif; process perusahaan ini tidak memilikinya, dan software yang menambahkannya akan terlihat profesional tetapi tetap salah. Studi kasus ANCoraPRO memuat kondisi sebelum dan sesudahnya secara lengkap.

Qilap, ERP carwash yang saya bangun dan jalankan, ceritanya sama. Pekerjaannya dibagi antara mobile field app untuk kru dan POS untuk admin, dan satu cucian bisa dibayar dengan lebih dari satu metode. Tidak satu pun dari itu datang dari prompt. Semuanya datang dari cara carwash benar-benar beroperasi: siapa yang memegang HP, siapa yang memegang laci kas, dan bagaimana pelanggan sebenarnya membayar.

Jabatan saya sendiri, AI Forward Deployed Engineer, adalah taruhan pada gagasan yang sama. Model yang dipakai setiap perusahaan sama saja. Yang berbeda adalah seberapa baik model itu tersambung ke sistem, aturan, dan pengecualian nyata di satu perusahaan, dan itu butuh orang yang mempelajari domainnya, bukan hanya mempelajari modelnya.

Kalau Anda sedang memilih jurusan atau karier di Indonesia

Para pemberi kerja menyampaikan hal serupa dalam survei mereka. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menemukan analytical thinking adalah core skill teratas, dengan tujuh dari sepuluh perusahaan menganggapnya esensial, bahwa AI dan big data adalah skill yang paling cepat tumbuh, dan bahwa pemberi kerja memperkirakan 39% core skill pekerja akan berubah sebelum 2030. Lapisan tool berubah paling cepat. Lapisan cara berpikir dan lapisan domain adalah yang terbawa terus. [12]

LapisanYang dipelajariTanda sudah berhasil
FondasiLogika, matematika, statistik, menulis dengan jelasAnda bisa menjelaskan kenapa sebuah jawaban salah, bukan hanya merasa ada yang janggal
ToolingSkill data, pemrograman, tool AIAnda mengotomasi satu tugas dari awal sampai akhir, lalu mengecek setiap output-nya
DomainSatu industri, dipelajari dari orang yang menjalankannyaAnda tahu data mana yang penting sebelum membuka dataset-nya

Kampus Malaka adalah salah satu jalan untuk membangun ketiga lapisan itu, dan menurut saya desainnya koheren. Kampus ini juga sangat baru, diluncurkan dua minggu sebelum tulisan ini dibuat, jadi hasilnya belum bisa dinilai. Lapisan yang sama bisa dibangun lewat jurusan apa pun, pekerjaan di dalam sebuah industri, atau proyek sampingan yang Anda pedulikan. Yang penting, lapisan domain-nya nyata: dipelajari dari orang yang mengerjakannya, bukan dari ringkasan tentangnya.

Kampus Malaka secara singkat, per laporan 2 November 2026 [3, 2, 4]

  • Diluncurkan pada 20 Oktober 2026 di Citywalk Sudirman, Jakarta, bertepatan dengan ulang tahun ketiga Malaka
  • Satu program studi, data science, di atas fondasi Madilog, dengan mata kuliah pilihan untuk memilih domain industri
  • Kurikulum digagas oleh Sabda PS (Sabda Putra Subekti), salah satu pendiri Zenius pada 2004
  • Terbuka untuk lulusan SMA, SMK, dan madrasah usia berapa pun tanpa tes seleksi, menurut Sabda PS
  • Ferry Irwandi menyebut biayanya tidak akan lebih dari Rp2.900.000, seperti dilaporkan IDN Times; cek kanal resmi Malaka untuk ketentuan terbaru

Di mana saya menambahkan catatan

Domain knowledge tidak otomatis aman. Studi customer support menunjukkan keahlian yang terkodifikasi bisa dikemas dan disebarkan oleh AI, jadi bagian yang langka adalah lapisan tacit: pengecualian, penilaian kapan sebuah aturan boleh dilenturkan, dan kepercayaan dari orang-orang yang menjalankan operasinya. Menguasai versi buku teks dari sebuah domain makin lemah sebagai keunggulan setiap tahunnya. [10]

Fondasi juga bukan pilihan. Danger zone versi Conway adalah gambaran persis seorang ahli domain dengan tool AI tanpa statistik: analisis yang meyakinkan tetapi tidak bisa dicek siapa pun. Karena itu saya membaca urutan Sabda, fondasi dulu, lalu tool, lalu domain, sebagai bagian terpenting dari argumennya, bukan sekadar detail dari satu kurikulum. [11]

Nge-prompt adalah skill seperti mengetik adalah skill: layak dipelajari, dan cepat menjadi komoditas. Pakai AI untuk bagian yang kini murah, mengetik, mengumpulkan, dan merapikan format, lalu gunakan waktu yang dihemat untuk masuk lebih dalam ke satu domain. Sebuah prompt hanya sebagus pemahaman Anda tentang masalahnya.

Giliran Anda

Apa yang Anda ketahui tentang bidang Anda yang tidak mungkin diberitahukan oleh model AI mana pun? Kirimkan satu contoh. Contoh terbaik selalu membosankan dan spesifik: sebuah pengecualian, sebuah workaround, sebuah aturan yang ada hanya karena satu hari yang buruk.

Balas lewat halaman kontak atau di LinkedIn

Tulisan ini menjawab pertanyaan yang saya tinggalkan di People, process, technology di era AI: masih relevan?

Bacaan terkait

FAQ

Pertanyaan Umum

Jawaban singkat untuk pertanyaan yang paling sering diajukan pembaca tentang topik ini.

Kenapa domain knowledge penting di era AI?

AI membuat langkah teknis menjadi murah: menulis kode, mengumpulkan data, dan merapikan output. Yang tidak bisa diberikan AI adalah pemahaman tentang data mana yang penting, pertanyaan apa yang harus diajukan, dan kapan jawaban yang lancar ternyata salah, dan itu datang dari memahami bidang tertentu. Riset payroll Stanford menemukan AI menggantikan pengetahuan terkodifikasi ala buku teks, sementara melengkapi pengetahuan tacit berbasis pengalaman milik pekerja senior.

Apa itu Kampus Malaka dan apa yang diajarkan?

Kampus Malaka adalah kampus baru yang diluncurkan Malaka pada 20 Oktober 2026 di Jakarta untuk lulusan SMA, SMK, dan madrasah. Program studinya satu, data science, dibangun di atas fondasi Madilog berupa logika, pengetahuan yang reliable, dan dialektika, dengan data science sebagai tooling universal dan mata kuliah pilihan untuk memilih domain industri. Kurikulumnya digagas oleh Sabda PS, salah satu pendiri Zenius; cek kanal resmi Malaka untuk ketentuan pendaftaran terbaru.

Apa kata Sabda PS soal nge-prompt dan data science?

Di peluncuran Kampus Malaka, Sabda PS mengatakan nge-prompt yang benar itu tidak gampang: saat coding dengan AI Anda tetap harus paham database dan struktur modulnya, kalau tidak kodenya kusut saat diubah. Ia menambahkan bahwa AI membuat data science sendiri jadi sangat mudah, tetapi data science bukan cuma ngoding dan statistik. Dibutuhkan domain expertise untuk tahu data mana yang penting dan bagaimana menjadikannya insight.

Apakah data science masih layak dipelajari kalau AI bisa menulis kode?

Ya, kalau dipelajari lebih dari sekadar coding. Diagram data science Drew Conway punya tiga lingkaran, hacking skills, matematika dan statistik, serta substantive expertise, dan AI terutama memurahkan lingkaran pertama. Nilainya berpindah ke statistik yang membuat Anda bisa mengecek hasil dan ke domain knowledge yang memberi tahu apa yang harus ditanyakan, kombinasi yang menjadi dasar desain kurikulum Kampus Malaka.

Bagaimana mahasiswa atau developer junior membangun domain knowledge?

Pilih satu industri dan pelajari dari orang yang menjalankannya, bukan dari ringkasan: duduk bersama pengguna, baca dokumen nyata mereka, dan pelajari pengecualiannya. Pertahankan fondasinya, yaitu logika, matematika, statistik, dan menulis dengan jelas, supaya Anda bisa mengecek hasil kerja AI. Lalu pakai tool AI untuk mengotomasi satu tugas nyata di domain itu dari awal sampai akhir, dan verifikasi setiap output-nya terhadap ekspektasi para ahli domain.